Saat Tidur, Pengguna Path Bisa Dikirimi Domba

Ada fitur baru yang “lucu” di aplikasi Path. Pengguna yang memasang status Go to sleep kini bisa mendapatkan domba sebanyak mungkin, dari orang-orang yang melihat posting-annya.

Caranya, pengguna mesti menekan ikon ā€œ+ā€ dan memilih status Go to sleep. Setelah memilih status tersebut, pengguna akan mendapatkan gambar dan komentar otomatis dari Path mengenai jam tidurnya.

Di bawahnya Path menambahkan fitur baru berupa tombol Send over a sheep, tepat di bawah tulisan komentar dari Path.

Nah, setiap kali ada teman Path yang menyentuh tombol Send over a sheep, maka pengguna akan mendapatkan satu domba. Total domba yang diperoleh akan ditampilkan mengelilingi bulan sabit pada status pengguna.

screenshot
Contoh domba pada fitur Go to sleep di Path
Domba-domba tersebut hanya merupakan hiasan untuk mempercantik linimasa pengguna Path. Sementara ini tak terlihat ada fungsi khusus yang disematkan ke dalamnya.

Setelah pengguna bangun tidur dan mengganti status menjadi Iā€™m awake, maka domba yang mengelilingi bulan sabit itu akan menghilang. Gantinya, akan muncul hitungan yang menunjukkan jumlah domba yang dikirimi teman selama tidur.

Bentuk status Go to sleep ini pun berubah. Bila sebelumnya hanya menampilkan sebaris komentar dan ikon bulan sabit, sekarang lebih menonjolkan unsur grafis dengan menjadikannya posting-an foto berukuran besar.
Status Go to sleep atau I’m awake juga dilengkapi foto latar belakang yang ditampilkan secara acak. Sekilas, teknik foto latar yang acak itu mirip dengan teknik yang digunakan pada fitur #Pathdaily.

Baca: Cara Bikin Posting-an #PathDaily di Path

Pantauan KompasTekno, pembaruan ini muncul pada Kamis (20/10/2016), dalam aplikasi Path versi 5.7.0 untuk sistem operasi Android. Belum diketahui apakah Path memiliki rencana tertentu soal fitur ini.

Iklan

Melihat Samsung Z2 dari Berbagai Sisi

Samsung resmi merilis smartphone bersistem operasi Tizen pertamanya di pasar Indonesia, yakni seri Samsung Z2 pada Rabu (19/10/2016).

Smartphone alternatif Android tersebut sudah mendukung teknologi 4G LTE di Indonesia, dan menyediakan slot dual SIM GSM. KompasTekno berkesempatan melihatnya dari dekat di acara peluncuran.

Samsung Z2 memiliki bodi berbahan plastik, desain candybar dengan ujung-ujung yang membulat. Punggung smartphone juga dibuat melengkung di sisinya untuk menambah ergonomi saat digenggam.

Layar Samsung Z2 mengusung materi TFT ukuran 4 inci resolusi WVGA dengan speaker dan kamera depan bersanding di atasnya. Di bagian bawah layar, terdapat tombol Home fisik dengan bentuk lonjong.

Melongok bagian belakang, lensa kamera dengan bingkai kotak didesain menonjol, sepintas mengingatkan kepada lini smartphone Samsung Galaxy S dan phablet Note terbaru. Lampu LED Flash disertakan oleh Samsung di sampingnya.

Fatimah Kartini Bohang/kompas.com
Tampak belakang Samsung Tizen Z2.
Untuk kamera sendiri, Samsung Z2 dibekali kamera utama resolusi 5 megapiksel di bagian belakang, dan kamera selfie resolusi VGA (800 x 600 piksel) di bagian depan.

Sementara colokan audio 3,5 mm berada di sisi bagian atas smartphone, dan konektor microUSB berada di sisi bawah.

Tombol daya ada di sisi kanan Samsung Z2, sementara tombol volume up dan down ditempatkan di sisi kiri smartphone Tizen ini.

Dari segi hardware, chipset Speadtrum SC9830I diusung oleh Samsung Z2, dipadukan dengan memori RAM 1 GB, dan memori internal 8 GB. Prosesor Samsung Z2 mengandalkan seri Cortex-A7 Quad-core 1,5 GHz, dan GPU (prosesor grafis) Mali-400MP2.

Untuk melihat foto-foto Samsung Z2 dari berbagai sudut, kunjungi Galeri Foto KompasTekno di tautan berikut ini.

Motorola Kembali ke Indonesia dengan Moto E3 Power

Desas-desus soal kembalinya ponsel Motorola di Indonesia akhirnya terkonfirmasi. Hari ini, Kamis (20/10/2016), Lenovo selaku induk perusahaan Motorola, mengumumkan bakal memboyong seri ponsel Moto E3 Power ke Tanah Air.

“Varian Power ini eksklusif untuk Indonesia. Kalau di global cuma Moto E3 saja,” kata Country Lead Mobile Business Group Lenovo Indonesia, Adrie Suhadi, dalam acara jumpa media di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Jakarta.

Adrie masih enggan mengungkap tanggal pasti peluncuran Moto E3 Power. Ia cuma menyebut Oktober sebagai bulan perilisan seri Moto termutakhir itu.

Bersamaan dengan pengumuman tersebut, Lenovo sekaligus mengumbar komitmennya dalam memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang ditetapkan pemerintah. Pabrikan China itu bakal memproduksi produk-produk Moto di Serang, Banten.

Hal ini dimungkinkan kerja sama dengan pabrikan lokal TDK yang selama ini sudah berkolaborasi dalam memproduksi lini Lenovo sejak 2015 lalu.

Fasilitas pabrikasi untuk Moto sendiri memiliki dua lini produksi dengan kapasitas 90.000 unit per bulan. Kapasitas itu untuk produk mid-end dan high-end. Lalu, lini produksi bagi ponsel low-end bisa menghasilkan 75.000 hingga 150.000 unit per bulan.

Kominfo menyambut hangat itikad baik yang ditunjukan Lenovo sebagai pabrikan global yang berbisnis di Tanah Air. Meski demikian, Menkominfo Rudiantara mengatakan pemerintah tetap bersikap netral ke semua vendor.

“Kami tidak mendiskriminasi siapa pun. Kalau (vendor) berproses dengan Kominfo seperti Lenovo, kami pasti sambut. Soal kenapa Lenovo kelihatan tempel (dengan Kominfo) mungkin karena komunikasi saja,” kata menteri yang kerap disapa RA tersebut dalam kesempatan yang sama.

Beberapa spesifikasi Moto E3 Power meliputi layar HD 5 inci, kamera utama 8 megapiksel, kamera selfie 5 megapiksel, RAM 2 GB, prosesor quad-core 64 bit, serta sistem operasi Android Marshmallow.

Embel-embel “Power” menunjukkan kemampuan baterai yang lebih mumpuni. Lenovo mengklaim baterai E3 Power cuma butuh diisi ulang selama 15 menit untuk ketahanan 5 jam. Untuk semua kemampuan itu, Motorola Moto E3 Power dibanderol Rp 1 jutaan.

LeEco Le S3, Android RAM 3 GB Berbanderol Rp 3 Juta

LeEco memulai debutnya di pasar Amerika Serikat dengan merilis dua smartphone sekaligus. Selain Le Pro 3, vendor asal China ini juga merilis Le S3.

“Selain Le Pro 3, kami juga merilis sang adik kecil, Le S3,” ujar Rob Chandhok, Chief R&D Officer for LeEco North America di hadapan ratusan media, termasuk wartawan Kompas.com Deliusno.

Le S3 sendiri bagaikan saudara kembar dengan Le Pro 3. Keduanya memiliki desain fisik yang mirip. Hanya saja, Le S3 hadir dengan spesifikasi yang lebih rendah. Perangkat yang satu ini memang diposisikan di kelas menengah oleh LeEco.

Le S3 dibekali dengan layar berbentang sama dengan Le Pro 3, yakni 5,5 inci. Meskipun begitu, resolusi layar Le S3 hanya HD 720p. Layar Le Pro 3 sendiri mendukung resolusi Full HD 1080p.

Untuk “otak” pemrosesan, LeEco menyerahkannya kepada Snapdragon 652 bikinan Qualcomm. Meski tidak sekencang Snapdragon 821 di Le Pro 3, LeEco menjamin bahwa chipset tersebut sudah lebih dari cukup.

“Chipset itu (Snapdragon 652) bisa membuat Le Pro 3 memainkan game dengan grafis yang intensif. Kegiatan multitasking juga semakin nyaman menggunakan chipset tersebut,” tutur Chandhok.

Kelengkapan lainnya, Le S3 dibekali dengan RAM 3 GB, media penyimpanan berkapasitas 32 GB, dan baterai 3.000 mAh.

Di bagian belakang, LeEco memasang kamera 16 megapiksel yang mampu digunakan untuk merekam video berkualitas 4K. Sementara itu, di bagian depan terdapat kamera 8 megapiksel.

Le S3 menjalankan sistem operasi Android 6.0.1 Marshmallow yang dipercantik dengan tampilan antarmuka eUI 5.8. Ada juga fitur pemindai sidik jari di bagian belakang perangkat, persis di bawah lensa kamera utama.

Sama seperti Le Pro 3, Le S3 tidak dilengkapi port audio 3.5 mm. Sebagai gantinya, LeEco menyediakan port USB Type-C.

Le S3 akan dijual dalam tiga pilihan warna, yakni grey, rose gold, dan gold. Ia akan mulai tersedia di pasar AS mulai 2 November dengan harga 249 dollar AS atau sekitar Rp 3,2 juta.

Pihak LeEco belum mengindikasikan kehadiran Le S3 di Indonesia.

Resmi Penuhi TKDN, Ponsel Motorola Dirakit di Serang

Lenovo selaku perusahaan induk Motorola, memastikan bakal meluncurkan ponsel 4G Moto E3 Power di Indonesia pada Oktober mendatang. Kepastian itu didapat setelah Motorola dinyatakan telah memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) ponsel 4G.

“Kami apresiasi upaya Lenovo dalam memenuhi aturan TKDN. Ini juga sebagai bentuk mengembangkan ekosistem broadband 4G,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kamis (20/10/2016), pada sebuah acara media di Gedung Serbaguna Kominfo, Jakarta.

Dari tiga skema TKDN yang ditentukan Kementerian Perindustrian lewat Permenperin No. 65 tahun 2016, Lenovo memilih skema pertama yang didominasi aspek manufaktur.

“Kami pilih jalur 70 persen hardware, 20 persen riset dan pengembangan, sisanya 10 persen software,” kata Country Lead Mobile Business Group Lenovo Indonesia, Adrie R. Suhadi, pada kesempatan yang sama.

Adrie mengatakan, tak menutup kemungkinan Lenovo juga mencoba skema-skema investasi lain dalam memproduksi ponsel Moto di kemudian hari. Namun, untuk saat ini aspek mayoritas manufaktur dirasa paling realistis.

“Semuanya bisa berubah sesuai perkembangan,” ujarnya.

Diproduksi di Serang

Lenovo bakal memproduksi produk-produk Moto di Serang, Banten. Hal ini dimungkinkan kerja sama dengan pabrikan lokal TDK. Sebelumnya, lini Lenovo sudah lebih dulu dirakit TDK sejak 2015 lalu.

Fasilitas pabrikasi untuk Moto sendiri memiliki dua lini produksi dengan kapasitas 90.000 unit per bulan. Kapasitas itu untuk produk mid-end dan high-end. Sementara itu, lini produksi bagi ponsel low-end bisa menghasilkan 75.000 hingga 150.000 unit per bulan.

E3 Power merupakan lini Moto pertama yang diproduksi dengan mematuhi aturan TKDN. Ke depan, Lenovo yang menjadi “ibu” Motorola sejak 2014 tersebut mengatakan bakal lebih banyak menghadirkan seri Moto di Tanah Air.

E3 Power merupakan ponsel berlayar 5 inci, dengan kamera 8 megapiksel di belakang dan 5 megapiksel di depan. Prosesornya mengandalkan quad-core 64 bit dengan RAM 2GB dan baterai 3.500 mAh. Ponsel itu bakal dipatok senilai Rp 1 jutaan.

LeEco Pamerkan Sepeda Pintar Berbasis Android

LeEco berhasil membuktikan, Android tidak hanya bisa digunakan di smartphone dan tablet saja. Vendor asal China itu berhasil mengaplikasikan OS bikinan Google itu ke sepeda.

Sepeda pintar bernama Le Syvrac atau Le Super Bike itu dipamerkan di ajang LeEco Bigbang Conference di Palace Fine Arts, San Francisco, AS. Dalam acara itu, LeEco juga menyatakan bahwa sepeda tersebut akan dijual di pasar AS dalam waktu dekat.

Didapuk sebagai sepeda pintar, LeEco membenamkan begitu banyak teknologi, terutama yang menyangkut keamanan pengguna. Beberapa di antaranya seperti laser di bagian setang, lampu sein kanan dan kiri, dan juga lampu sorot yang bisa diatur di bagian depan sepeda.

Laser di bagian setang bisa digunakan sebagai penanda jarak aman bagi kendaraan yang akan melewati sepeda.

Deliusno/Kompas.com
Ada semacam ponsel Android di bagian frame sepeda pintar

Kecanggihan Le Super Bike tidak berhenti sampai di situ. LeEco berhasil menyematkan semacam ponsel Android berbentang 4 inci di bagian tengah setang.

Perangkat Android tersebut tidak bisa dilepas atau tertanam langsung ke bodi sepeda. Ia menggunakan sebuah OS yang disebut Bike OS, meskipun sebenarnya berbasiskan Android.

Perangkat itu dapat terhubung ke jaringan seluler dengan kemampuan GPS. Pengguna juga bisa melihat jarak yang sudah ditempuh menggunakan sepeda, memutar musik, dan kemampuan mengunci roda belakang menggunakan benda mirip ponsel itu.
Deliusno/Kompas.com
Ada tiga tombol fungsi di frame sepeda pintar

Di bagian tengah sepeda, LeEco menghadirkan tiga tombol fungsi, yakni power, kamera, dan lampu. Seperti namanya, power digunakan untuk menyalakan sepeda, kamera untuk menyalakan fungsi mengambil gambar, dan lampu untuk menyalakan penerangan di bodi sepeda.

Untuk menghidupi perangkat tersebut, LeEco menanam baterai lithium berkapasitas 7.950 mAh di bagian frame sepeda. Baterai tersebut nantinya bisa diisi dayanya menggunakan kabel microUSB.

Selain itu, sepeda ini juga dilengkapi dengan gearset Deore 30-speed buatan Shimano, RAM 4 GB, dan prosesor quad-core.

LeEco sendiri tidak menyebutkan kapan tepatnya perangkat ini akan hadir di AS. Tidak disebutkan juga harganya, tetapi Le Super Bike sudah dijual di China dengan harga 800 dollar AS (Rp 10,5 juta) hingga 6.000 dollar AS (Rp 78 juta), tergantung bahan frame yang dipilih.

Harga termahal dibanderol untuk sepeda pintar dengan frame yang keseluruhannya berbahan serat karbon.

2017, Ponsel-ponsel Baru Bakal Lebih Cepat Masuk Indonesia

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sempat mengemukakan wacana untuk menghapus uji sertifikasi ponsel bagi vendor global tertentu. Wacana itu kemudian berkembang menjadi opsi penyederhanaan sertifikasi, bukan penghapusan.

Rudiantara mengatakan, implementasi wacana tersebut akan berlaku per 1 Januari 2017. Saat ini, menteri dan timnya sedang merancang aturan tertulis yang bakal tertuang dalam sebuah peraturan menteri (PM).

“Kami mau proses cepat. Kalau ada ponsel baru, masyarakat tidak usah tunggu lama cuma karena birokrasi yang bertele-tele,” kata Rudiantara, Kamis (20/10/2016), saat dijumpai di kantor Kemenkominfo, Jakarta.

Rudiantara berharap proses sertifikasi ponsel bisa rampung sebelum proses produksi selesai, sehingga ponsel bisa langsung dipasarkan.

“Saat sedang produksi, orang Kominfo akan masuk (pabrik vendor) untuk mengecek. Apakah sudah memenuhi syarat, radionya-kah, semuanya. Jadi, selesai produksi langsung masuk pasar,” kata menteri yang kerap disapa RA ini.

Baca: Sertifikasi Duo iPhone 7 di Indonesia Terhambat

Sementara itu, untuk produk keluaran vendor global, Rudiantara berharap sertifikasi sudah selesai sebelum barang diimpor. Jadi, ketika produk masuk Tanah Air, pemerintah tinggal menerima surat lolos sertifikasi.

Namun, Rudiantara mengakui skema yang cenderung berasas kepercayaan tersebut tak bisa digeneralisasi untuk semua vendor global. Cuma pabrikan besar yang kredibel dan kemampuan laboratorium internalnya sudah canggih yang dipermudah.

“Kalau barang dari vendor yang enggak jelas, ngapain?” ujarnya.

Untuk menjamin keamanan produk pasca-produksi, Kemenkominfo juga bakal melakukan operasi uji petik (inspeksi mendadak) di lapangan. Hal ini dilakukan secara tiba-tiba dan tak berkala.

“Kalau ada ponsel yang sebelumnya lolos sertifikasi lalu kenyataannya tak sesuai, tentu akan ditindak,” tuturnya.