Bulan: Februari 2017

LeEco Le S3, Android RAM 3 GB Berbanderol Rp 3 Juta

LeEco memulai debutnya di pasar Amerika Serikat dengan merilis dua smartphone sekaligus. Selain Le Pro 3, vendor asal China ini juga merilis Le S3.

“Selain Le Pro 3, kami juga merilis sang adik kecil, Le S3,” ujar Rob Chandhok, Chief R&D Officer for LeEco North America di hadapan ratusan media, termasuk wartawan Kompas.com Deliusno.

Le S3 sendiri bagaikan saudara kembar dengan Le Pro 3. Keduanya memiliki desain fisik yang mirip. Hanya saja, Le S3 hadir dengan spesifikasi yang lebih rendah. Perangkat yang satu ini memang diposisikan di kelas menengah oleh LeEco.

Le S3 dibekali dengan layar berbentang sama dengan Le Pro 3, yakni 5,5 inci. Meskipun begitu, resolusi layar Le S3 hanya HD 720p. Layar Le Pro 3 sendiri mendukung resolusi Full HD 1080p.

Untuk “otak” pemrosesan, LeEco menyerahkannya kepada Snapdragon 652 bikinan Qualcomm. Meski tidak sekencang Snapdragon 821 di Le Pro 3, LeEco menjamin bahwa chipset tersebut sudah lebih dari cukup.

“Chipset itu (Snapdragon 652) bisa membuat Le Pro 3 memainkan game dengan grafis yang intensif. Kegiatan multitasking juga semakin nyaman menggunakan chipset tersebut,” tutur Chandhok.

Kelengkapan lainnya, Le S3 dibekali dengan RAM 3 GB, media penyimpanan berkapasitas 32 GB, dan baterai 3.000 mAh.

Di bagian belakang, LeEco memasang kamera 16 megapiksel yang mampu digunakan untuk merekam video berkualitas 4K. Sementara itu, di bagian depan terdapat kamera 8 megapiksel.

Le S3 menjalankan sistem operasi Android 6.0.1 Marshmallow yang dipercantik dengan tampilan antarmuka eUI 5.8. Ada juga fitur pemindai sidik jari di bagian belakang perangkat, persis di bawah lensa kamera utama.

Sama seperti Le Pro 3, Le S3 tidak dilengkapi port audio 3.5 mm. Sebagai gantinya, LeEco menyediakan port USB Type-C.

Le S3 akan dijual dalam tiga pilihan warna, yakni grey, rose gold, dan gold. Ia akan mulai tersedia di pasar AS mulai 2 November dengan harga 249 dollar AS atau sekitar Rp 3,2 juta.

Pihak LeEco belum mengindikasikan kehadiran Le S3 di Indonesia.

Iklan

Resmi Penuhi TKDN, Ponsel Motorola Dirakit di Serang

Lenovo selaku perusahaan induk Motorola, memastikan bakal meluncurkan ponsel 4G Moto E3 Power di Indonesia pada Oktober mendatang. Kepastian itu didapat setelah Motorola dinyatakan telah memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) ponsel 4G.

“Kami apresiasi upaya Lenovo dalam memenuhi aturan TKDN. Ini juga sebagai bentuk mengembangkan ekosistem broadband 4G,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kamis (20/10/2016), pada sebuah acara media di Gedung Serbaguna Kominfo, Jakarta.

Dari tiga skema TKDN yang ditentukan Kementerian Perindustrian lewat Permenperin No. 65 tahun 2016, Lenovo memilih skema pertama yang didominasi aspek manufaktur.

“Kami pilih jalur 70 persen hardware, 20 persen riset dan pengembangan, sisanya 10 persen software,” kata Country Lead Mobile Business Group Lenovo Indonesia, Adrie R. Suhadi, pada kesempatan yang sama.

Adrie mengatakan, tak menutup kemungkinan Lenovo juga mencoba skema-skema investasi lain dalam memproduksi ponsel Moto di kemudian hari. Namun, untuk saat ini aspek mayoritas manufaktur dirasa paling realistis.

“Semuanya bisa berubah sesuai perkembangan,” ujarnya.

Diproduksi di Serang

Lenovo bakal memproduksi produk-produk Moto di Serang, Banten. Hal ini dimungkinkan kerja sama dengan pabrikan lokal TDK. Sebelumnya, lini Lenovo sudah lebih dulu dirakit TDK sejak 2015 lalu.

Fasilitas pabrikasi untuk Moto sendiri memiliki dua lini produksi dengan kapasitas 90.000 unit per bulan. Kapasitas itu untuk produk mid-end dan high-end. Sementara itu, lini produksi bagi ponsel low-end bisa menghasilkan 75.000 hingga 150.000 unit per bulan.

E3 Power merupakan lini Moto pertama yang diproduksi dengan mematuhi aturan TKDN. Ke depan, Lenovo yang menjadi “ibu” Motorola sejak 2014 tersebut mengatakan bakal lebih banyak menghadirkan seri Moto di Tanah Air.

E3 Power merupakan ponsel berlayar 5 inci, dengan kamera 8 megapiksel di belakang dan 5 megapiksel di depan. Prosesornya mengandalkan quad-core 64 bit dengan RAM 2GB dan baterai 3.500 mAh. Ponsel itu bakal dipatok senilai Rp 1 jutaan.

LeEco Pamerkan Sepeda Pintar Berbasis Android

LeEco berhasil membuktikan, Android tidak hanya bisa digunakan di smartphone dan tablet saja. Vendor asal China itu berhasil mengaplikasikan OS bikinan Google itu ke sepeda.

Sepeda pintar bernama Le Syvrac atau Le Super Bike itu dipamerkan di ajang LeEco Bigbang Conference di Palace Fine Arts, San Francisco, AS. Dalam acara itu, LeEco juga menyatakan bahwa sepeda tersebut akan dijual di pasar AS dalam waktu dekat.

Didapuk sebagai sepeda pintar, LeEco membenamkan begitu banyak teknologi, terutama yang menyangkut keamanan pengguna. Beberapa di antaranya seperti laser di bagian setang, lampu sein kanan dan kiri, dan juga lampu sorot yang bisa diatur di bagian depan sepeda.

Laser di bagian setang bisa digunakan sebagai penanda jarak aman bagi kendaraan yang akan melewati sepeda.

Deliusno/Kompas.com
Ada semacam ponsel Android di bagian frame sepeda pintar

Kecanggihan Le Super Bike tidak berhenti sampai di situ. LeEco berhasil menyematkan semacam ponsel Android berbentang 4 inci di bagian tengah setang.

Perangkat Android tersebut tidak bisa dilepas atau tertanam langsung ke bodi sepeda. Ia menggunakan sebuah OS yang disebut Bike OS, meskipun sebenarnya berbasiskan Android.

Perangkat itu dapat terhubung ke jaringan seluler dengan kemampuan GPS. Pengguna juga bisa melihat jarak yang sudah ditempuh menggunakan sepeda, memutar musik, dan kemampuan mengunci roda belakang menggunakan benda mirip ponsel itu.
Deliusno/Kompas.com
Ada tiga tombol fungsi di frame sepeda pintar

Di bagian tengah sepeda, LeEco menghadirkan tiga tombol fungsi, yakni power, kamera, dan lampu. Seperti namanya, power digunakan untuk menyalakan sepeda, kamera untuk menyalakan fungsi mengambil gambar, dan lampu untuk menyalakan penerangan di bodi sepeda.

Untuk menghidupi perangkat tersebut, LeEco menanam baterai lithium berkapasitas 7.950 mAh di bagian frame sepeda. Baterai tersebut nantinya bisa diisi dayanya menggunakan kabel microUSB.

Selain itu, sepeda ini juga dilengkapi dengan gearset Deore 30-speed buatan Shimano, RAM 4 GB, dan prosesor quad-core.

LeEco sendiri tidak menyebutkan kapan tepatnya perangkat ini akan hadir di AS. Tidak disebutkan juga harganya, tetapi Le Super Bike sudah dijual di China dengan harga 800 dollar AS (Rp 10,5 juta) hingga 6.000 dollar AS (Rp 78 juta), tergantung bahan frame yang dipilih.

Harga termahal dibanderol untuk sepeda pintar dengan frame yang keseluruhannya berbahan serat karbon.

2017, Ponsel-ponsel Baru Bakal Lebih Cepat Masuk Indonesia

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sempat mengemukakan wacana untuk menghapus uji sertifikasi ponsel bagi vendor global tertentu. Wacana itu kemudian berkembang menjadi opsi penyederhanaan sertifikasi, bukan penghapusan.

Rudiantara mengatakan, implementasi wacana tersebut akan berlaku per 1 Januari 2017. Saat ini, menteri dan timnya sedang merancang aturan tertulis yang bakal tertuang dalam sebuah peraturan menteri (PM).

“Kami mau proses cepat. Kalau ada ponsel baru, masyarakat tidak usah tunggu lama cuma karena birokrasi yang bertele-tele,” kata Rudiantara, Kamis (20/10/2016), saat dijumpai di kantor Kemenkominfo, Jakarta.

Rudiantara berharap proses sertifikasi ponsel bisa rampung sebelum proses produksi selesai, sehingga ponsel bisa langsung dipasarkan.

“Saat sedang produksi, orang Kominfo akan masuk (pabrik vendor) untuk mengecek. Apakah sudah memenuhi syarat, radionya-kah, semuanya. Jadi, selesai produksi langsung masuk pasar,” kata menteri yang kerap disapa RA ini.

Baca: Sertifikasi Duo iPhone 7 di Indonesia Terhambat

Sementara itu, untuk produk keluaran vendor global, Rudiantara berharap sertifikasi sudah selesai sebelum barang diimpor. Jadi, ketika produk masuk Tanah Air, pemerintah tinggal menerima surat lolos sertifikasi.

Namun, Rudiantara mengakui skema yang cenderung berasas kepercayaan tersebut tak bisa digeneralisasi untuk semua vendor global. Cuma pabrikan besar yang kredibel dan kemampuan laboratorium internalnya sudah canggih yang dipermudah.

“Kalau barang dari vendor yang enggak jelas, ngapain?” ujarnya.

Untuk menjamin keamanan produk pasca-produksi, Kemenkominfo juga bakal melakukan operasi uji petik (inspeksi mendadak) di lapangan. Hal ini dilakukan secara tiba-tiba dan tak berkala.

“Kalau ada ponsel yang sebelumnya lolos sertifikasi lalu kenyataannya tak sesuai, tentu akan ditindak,” tuturnya.

Jumlah Pengguna Facebook di Indonesia Terus Bertambah

Facebook kembali mencatat peningkatan jumlah pengguna aktif bulanannya di Tanah Air. Sri Widowati, Country Director Facebook Indonesia, mengungkapkan bahwa angka pengguna aktif bulanan jejaring sosial tersebut kini sudah mencapai angka 88 juta di Indonesia.

“Itu merupakan angka terakhir di kuartal kedua (2016) kemarin,” ujar Sri saat berbicara dalam acara Press Briefing Facebook-Mobile Moves Commerce di Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Dengan demikian, jumlah pengguna Facebook di Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan angka sebelumnya sebesar 82 juta pengguna pada kuartal ke-empat 2015.

LinkedIn
Head of Facebook Indonesia Facebook Sri Widowati
Pada akhir 2014, jumlah pengguna aktif bulanan Facebook di Indonesia masih tercatat sebanyak 77 juta.

Sri turut mengungkapkan bahwa hampir semua pengguna aktif bulanan Facebook di Indonesia mengakses jejaring perangkat tersebut dari perangkat mobile.

“Dari angka 88 juta itu, sebanyak 94 persen mengakses Facebook dari gadget mobile. Sebagian besar waktu dan perhatian pengguna sekarang memang sudah beralih ke mobile,” imbuh Sri.

Menurut Sri, para pengguna gadget Indonesia rata-rata mengecek ponselnya lebih dari 80 kali setiap hari.

Sebanyak 14 kali dari jumlah tersebut adalah untuk menengok Facebook.

Di tingkat global, Facebook memiliki jumlah pengguna aktif bulanan sebanyak 1,7 miliar.

Raksasa jejaring sosial ini juga memilliki sejumlah layanan lain yang sama-sama memiliki basis pengguna yang besar, yakni layanan chatting WhatsApp (1 miliar pengguna) dan Messenger (1 miliar pengguna), serta layanan photo sharing Instagram (500 juta pengguna).

Cerita di Balik Batalnya Mobil Otonomos LeEco Melenggang di AS

Untuk memulai debutnya di Amerika Serikat, LeEco sebenarnya sudah menyiapkan sebuah produk pamungkas, yakni mobil listrik otonomos (bisa berjalan sendiri) bernama LeSee Pro.

Namun, apa daya. LeEco batal merilis secara resmi perangkat tersebut. Apa pasal?

CEO LeEco Yueting Jia berkisah bahwa sebenarnya sudah ada satu prototipe LeSee Pro yang bisa dipamerkan. Akan tetapi, mobil yang disebutnya sebagai supercar itu “dipinjam” untuk keperluan syuting film Transformers seri terbaru.

“LeSee Pro mengambil bagian dalam Transformers 5 dan saya pikir itu keren,” bangga Jia di depan ratusan media, termasuk wartawan Kompas.com Deliusno.

Nah, sebagai penggantinya, LeEco menyatakan bakal membawa LeSee generasi pertama. Namun sial, truk trailer yang membawa produk itu dari Los Angeles ke San Francisco mengalami kecelakaan di tengah perjalanan.

“Kecelakaan itu membuat kerusakan yang serius, kami tidak bisa memperbaikinya tepat waktu,” sesal Jia.

Tidak kehilangan akal, LeEco pun langsung menghubungi Michael Bay, sang sutradara Tranformers, untuk meminjam LeSee Pro dari lokasi syuting untuk sementara.

“Setelah berdiskusi dengan Michael Bay, kami akhirnya mengirimkan LeSee Pro dari London (tempat syuting Transformers 5) ke San Francisco,” ujar Jia.

Namun, apa daya, pengiriman dari London tersebut mengalami keterlambatan. Pada akhirnya, Jia memutuskan untuk menunda perilisan resmi LeSee Pro di AS.

Punya desain futuristik

Untungnya, menjelang akhir acara, LeEco berhasil membawa LeSee Pro ke tempat pameran untuk sekadar dipajang, bukan dirilis secara resmi. Para media pun diberikan kesempatan untuk mengambil foto mobil pintar itu.

Hadir sebagai mobil konsep, LeSee Pro punya bentuk futuristik. Mobil ini berwarna silver dengan lekukan yang seperti ingin memperlihatkan bawah ia berasal dari masa depan.

Deliusno/Kompas.com
Bagian atas bisa digunakan sebagai “mata” saat mode otonomos
Di bagian atas, terdapat sebuah alat yang berfungsi sebagai “indera penglihatan”, yang bisa digunakan saat mobil dalam mode tanpa sopir.
Deliusno/Kompas.com
Setir dapat masuk saat mode otonomos

Kerennya lagi, setir akan masuk ke dashboard ketika mode tanpa sopir dinyalakan. Fungsinya agar pengguna bisa duduk lebih santai dan lega.

Sayangnya, mobil ini baru berupa konsep belaka. LeEco masih belum mau mengungkap harga dan kapan produk ini akan dipasarkan.

LeEco sendiri berjanji untuk memamerkan kembali LeSee Pro pada ajang CES awal tahun 2017 mendatang.